Sabtu

Nizamiyah: A Sunni Madrasah In Baghdad At Medieval Islam

In the reign of the Abbasid Caliph Harun al-Rashid (786-809 A.D.) and the Caliph al-Ma'mun (813-817 A.D.), Islamic world reached its zenits of civilization. One of its characteristics was that the progress of intellectual activities. Muslim and non-Muslim scholars along with their works, commentaries, translations and inventions were not compared to any others. The light of Islamic civilization turned to decline after the Mongols captured Baghdad in 1258 A.D. Thousands of books, manuscripts and collections of intellectual works in Bayt al-Hikmah, center of Muslim education whose major function was academic research during the Abbasids, were burned down.

However, the attitude of learning and scholarship among Muslims never fades away. Many verses in the Holy Koran (Alquran) and the Prophet Traditions (Alhadis) motivate to, oblige to, stress on the importance of learning. Also, Muslim educational centers and institutions like sufi ribats, khanqahs, zawiyahs, and madrasahs were continuously¬ established everywhere in the Islamic world ¬following the early period of Islam. The hattitude of learning and scholarship in Islam kept on filling the heritage of the Islamic civilization.

Memahami Perkembangan Anak untuk Pengasuhan yang Lebih Baik (Perspektif Islam dan Sains)

Akhir-akhir ini kegiatan seminar dan pelatihan tentang parenting semakin marak dilakukan. Fenomena ini cukup menggembirakan, sebab kegiatan tersebut dapat memberikan dampak yang positif terhadap pemahaman orang-tua untuk dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik terhadap anak-anaknya. Pemahaman yang baik oleh orangtua tentang bagaimana seharusnya mendidik dan membesarkan anak-anaknya, akan berdampak baik pula bagi terciptanya generasi penerus yang unggul dan berkualitas.Standar pengasuhan anak yang baik ukurannya sangat variatif dan relatif, tergantung siapa yang mengukurnya, apa alat ukurnya dan dari mana memandangnya. Sebagai umat Islam, tentu kita semua sepakat bahwa standar pengasuhan yang baik adalah pengasuhan yang tuntunannya bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah kita yakini mutlak kebenarannya. Tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah jika disandingkan dengan hasil temuan sains modern maka keduanya pasti akan seirama[1]. Banyak sudah temuan di bidang sains yang membuktikan kebenaran agama Islam, demikian pula, banyak sudah tuntunan agama yang menginspirasi ditemukannya pengetahuan baru di bidang sains.
Tulisan ini mencoba menyajikan sekilas tentang perkembangan anak menurut sains modern dan pandangan Islam. Dengan demikian diharapkan kita mempunyai pemahaman yang lebih baik agar dapat mengasuh serta membesarkan anak-anak kita dengan cara-cara yang lebih baik pula.

Manusia dalam Perspektif Islam dan Psikologi Eksistensial-Humanistik: Sebuah komparasi

Dalam dunia pendidikan, psikologi adalah salah satu disiplin ilmu yang amat penting dipelajari. Namun sebagian besar teori psikologi berasal dari Barat, jadi besar kemungkinan kerangka pikir (mode of thought) psikologi dipenuhi oleh pandangan dan nilai-nilai hidup masyarakat Barat yang sebagian besar berbeda, dan mungkin sangat bertentangan, dengan pandangan dan nilai-nilai Islam. Timbul kekhawatiran, jika psikologi Barat diserap tanpa hati-hati, maka akan merusak ideologi umat Islam. Banyak teori psikologi Barat yang tidak sesuai bahkan bertentangan dengan pandangan Islam. Namun diantara teori psikologi Barat tersebut, diantaranya ada pula yang tampaknya masih sejalan dengan pandangan Islam, salah satu diantaranya adalah psikologi Eksistensial-Humanistik. Objek kajian psikologi adalah manusia, oleh sebab itu hal yang mendasar dan pertama kali dibicarakan oleh didiplin ilmu ini adalah tentang hakikat manusia, oleh sebab itu uraian ini hanya dibatasi pada pembahasan tentang hakikat manusia menurut perspektif Islam dan psikologi Eksistensial-Humanistik.

A. Pendahuluan
Dewasa ini, kiblat ilmu dan teknologi adalah Barat. Agar umat Islam menjadi umat yang maju dan kompetitif, maka umat Islam harus menuntut, menyerap, mempelajari, dan menguasai ilmu dan teknologi tersebut kepada bangsa Barat.

Psikologi adalah salah satu disiplin ilmu yang dewasa ini sedang berkembang pesat di dunia Barat. Psikologi telah memperlihatkan berbagai sumbangannya dalam membantu manusia untuk memecahkan berbagai problema dan menyimak misteri hidup dan kehidupannya.

Kamis

Pengaruh Gaya Pengasuhan Orangtua Terhadap Kemandirian Remaja

Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama dalam membentuk kepribadian seorang anak. Seorang anak akan tumbuh menjadi seorang remaja yang mandiri baik dalam hal emosi, berbuat, maupun berprinsip yang hal tersebut sangat dipengaruhi oleh gaya pengasuhan orangtua dalam lingkungan keluarganya. Sehubungan dengan gaya pengasuhan orangtua dan hubungannya dengan kemandirian para remaja, hal yang terpenting diketahui oleh para orangtua bahwa seorang remaja juga sangat membutuhkan dukungan daripada sekedar pengasuhan, seorang remaja juga membutuhkan bimbingan daripada sekedar perlindungan, seorang remaja juga membutuhkan pengarahan daripada sekedar sosialisasi, dan seorang remaja dalam kehidupannya sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang (kebutuhan psikis) daripada sekedar pemenuhan kebutuhan fisik/materi semata. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut sangat terkait pula dengan gaya pengasuhan yang diperankan oleh para orangtuanya, yang pada akhirnya juga sangat berpengaruh pada tumbuhnya kemandirian pada diri seorang anak ketika ia tumbuh menjadi seorang yang dewasa kelak.

A. Pendahuluan

Semua orangtua tentu saja mengharapkan anaknya dapat tumbuh menjadi manusia yang cerdas, bahagia, dan memiliki kepribadian yang baik. Namun harapan tersebut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dituntut kesabaran, keuletan dan kesungguhan dari para orangtua agar harapan tersebut dapat terwujud. Salah satu yang perlu diperhatikan oleh orangtua adalah menerapkan gaya pengasuhan yang tepat agar anaknya dapat berkembang menjadi manusia dewasa seperti yang diharapkan.

Sabtu

Pengembangan Model-Model Pembelajaran Alternatif bagi Pendidikan Islam (Suatu Alternatif Solusi Permasalahan Pembelajaran Agama Islam)

Dalam mengkaji pendidikan agama Islam yang dapat meningkatkan kecerdasan kognitif, afektif dan psikomotorik peserta belajar, tidak dapat dilepaskan dengan unsur-unsur seperti: guru, siswa, kurikulum, lingkungan, serta model pembelajaran yang dipilih oleh guru. Aspek-aspek tersebut akan sangat menentukan hasil belajar yang diharapkan baik yang berupa dampak pengajaran maupun dampak penggiringnya.

Model pembelajaran merupakan suatu rencana mengajar yang memperhatikan pola pembelajaran tertentu. Model-model pembelajaran berkembang sesuai dengan perkembangan kebutuhan peserta didik. Guru yang profesional dituntut mampu pengembangkan model perbelajaran, baik teoritik maupun praktek, yang meliputi aspek-aspek, konsep, prinsip, dan teknik. Memilih model yang tepat merupakan persyaratan untuk membantu siswa dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Model pembelajaran berpengaruh secara langsung terhadap keberhasilan belajar siswa. Jika tenaga pengajar menggunakan model pembelajaran sebagai suatu strategi mengajar dalam pembelajaran, hendaknya memperhatikan lima aspek kunci dari pembelajaran yang efektif, yaitu: (1) kejelasan, (2) variasi, (3) orientasi tugas, (4) keterlibatan siswa dalam belajar, dan (5) pencapaian kesuksesan yang tinggi.

Minggu

Pribadi Sehat dan Tidak Sehat Dalam Perspektif Islam

Pribadi merupakan kesatuan antara sistem hati nurani, akal, dan nafsu yang menimbulkan karakter dan tingkah laku seseorang. Jika dorongan-dorongan nafsu dapat dikendalikan oleh hati nurani dan akal dengan bimbingan dan petunjuk agama, maka akan lahir pribadi yang sehat, pribadi yang memiliki keimanan dan mempunyai tujuan untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Namun jika dorongan-dorongan nafsu selalu diperturutkan sehingga hati dan akal tidak mampu mengendalikannya lagi, maka akan lahir pribadi yang tidak sehat/bermasalah, kekuatan nafsunya selalu mendorong kepada kejahatan, mengejar kenikmatan duniawi dan melupakan kehidupan ukhrawi.

A. Pendahuluan
Manusia terdiri dari dua unsur, yaitu unsur materi (jasmani/jasad) dan unsur immateri (rohani/jiwa). Secara materi, manusia hakekatnya berasal dari tanah, sedangkan secara immateri, manusia berasal dari ruh yang tidak diketahui hakekatnya. Unsur manusia yang bersifat immateri (rohani/jiwa) digambarkan oleh al-Qur’an diantaranya melalui istilah ruh dan nafs yang selanjutnya akan diuraikan sebagai berikut:

1. Ruh
 
Dalam surah al-Hijr ayat 28-29 Allah berfirman:

وإذ قال ربك للملـئكة اني خالق بشرا من صلصال من حمإ مسنون. فاذا
سويـتـه ونفخت فيه من روحي فقعواله ساجدين

Sebagaimana yang digambarkan di dalam ayat 28-29 surah al-Hijr di atas, ruh adalah unsur terakhir yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia, dengan demikian dapat diambil pemahaman bahwa ruh adalah unsur yang sangat penting karena merupakan unsur terakhir yang menyempurnakan proses penciptaan manusia. Ruh juga dikatakan sebagai bagian unsur yang mulia, hal ini tersirat dari perintah Allah kepada para malaikat (termasuk pula iblis) untuk sujud kepada manusia sebagai tanda penghormatan setelah dimasukkannya unsur.